A. Pendahuluan
Wilayah Arab adalah sebuah padang pasir gersang yang terletak di bagian barat daya Asia. Wilayah ini merupakan tempat di mana agama Islam mulai berkembang. Namun demikian, perkembangan Islam tidak luput dari penaklukan terhadap bangsa lain.[1]
Perkembangan Islam terhadap suku bangsa di luar wilayah Arab, berpengaruh terhadap arsitektur terutama masjid. Dikarenakan terdapat unsur seni dan budaya yang mempengaruhi bentuk, tata, ruang, konstruksi, dekorasi dan aspek-aspek arsitektural lainnya.
Ketika Islam menduduki suatu wilayah, selalu diiringi dengan pembangunan yaitu masjid yang berfungsi sebagai bentuk pemersatu umat Islam.[2]
Sebagai penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam, penting kiranya untuk mengetahui sejarah kesenian Islam. Kesenian Islam meliputi seni tulis, seni sastra, seni ukir, seni musik dan juga seni bangunan atau arsitektur.
Namun pada masa itu bangsa Arab tidak menaruh perhatian yang lebih terhadap seni ukir dan lukis yang menggambarkan makhluk hidup. Mereka lebih menfokuskan terhadap seni arsitektur, dengan alasan seni ukir dan lukis dianggap menyerupai para penyembah berhala. Oleh sebab itu, unsur utama dalam seni arsitektur adalah gambar tumbuhan dan bentuk teknik pembangunan gedung.[3] Peninggalan-peninggalan kesenian Islam pun sangatlah banyak dan berada diberbagai Negara di dunia.
Dalam pembahasan ini, seni yang akan dibahas adalah seni bangunan atau arsitektur, yaitu masjid. Karena masjid merupakan ciri khas bangunan Islam. Adapun macam-macam masjid yang akan dikupas dalam makalah ini meliputi, Masjidil Haram, Masjid Quba, Masjid Nabawi, Masjid Jami’ Al ‘atiq, Masjid Qairawan, Kubah batu dan Masjidil Aqsha, serta Masjid Raya Damaskus. Masjid-masjid itu merupakan masjid pada masa Rasulullah hingga Umayyah.
B. Pembahasan
Menurut Yulianto Sumalyo pengertian arsitektur adalah hasil dari rancangan atau pun bangunan oleh seseorang maupun kelompok untuk memenuhi kebutuhan ruang dalam melaksanakan kegiatan tertentu. [4]
Masjid merupakan arsitektur dalam Islam. Masjid dibangun sebagai tempat beribadah umat muslim. Namun, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja. Menurut sejarah masjid Nabawi yang didirikan oleh Rasulullah, masjid ini memiliki banyak fungsi diantaranya, tempat komunikasi dan konsultasi berbagai masalah dalam banyak hal. Yaitu, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, santunan sosial, pusat pembelaan agama, pengobatan korban perang dan perdamaian, serta latihan militer dan persiapan peralatannya. [5]
Berikut macam-macam masjid yang dibangun pada masa Rasulullah hingga masa Umayyah :
a. Masjidil Haram
Masjidil haram merupakan masjid tertua di dunia. Bisa dikatakan masjid pertama dalam islam. Dalam masjid ini terdapat Ka’bah. Ka’bah adalah sebuah bangunan berbentuk persegi empat, yang dalam sejarahnya dibangun oleh nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail.
Pada masa Rasulullah bentuk masjid ini adalah lapangan terbuka yang dikelilingi oleh rumah penduduk kota Makkah dan di tengahnya berdiri sebuah Ka’bah. Hingga masa khalifah Abu Bakar, tidak ada perubahan pada masjid ini. Barulah pada masa Umar bin Khattab, beliau melakukan perbaikan dan perluasan. Dikarenakan bertambahnya umat Islam. Perbaikan yang dilakukan seperti membuat dinding dari batu-bata untuk mengelilingi masjid dan juga membangun sebuah bendungan untuk mencegah banjir.
Pada masa khalifah Usman bin Affan juga dilakukan perluasan. Kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) dari dinasti Umayyah. [6]
Masjidil Haram terus mengalami perbaikan dan perluasan hingga sekarang. Karena masjid ini dikunjungi oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh. Memiliki tujuh menara dan 19 pintu gerbang yang masing-masing memiliki nama seperti Bab as-Salam-pintu pertama yang dimasuki oleh orang-orang yang melaksanakan haji atau umroh dan akan melakukan tawaf- dan Bab as-Safa-pintu ke luar menuju Bukit Safa untuk melakukan sai. Selain terdapat Ka'bah di dalam masjid, ada pula maqam Nabi Ibrahim a.s., Hajar Aswad dan sumur zamzam. [7]
b. Masjid Quba
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saat beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Tepatnya, pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun 1 Hijriyah. Masjid ini berada di sebelah tenggara kota Madinah,[8] berjarak 5 km dari masjid Nabawi. [9]
Mulanya, masjid ini adalah sebuah pelataran terbuka yang dikelilingi dinding dari tanah liat. Kemudian Rasulullah membuat atap yang terbuat dari batang pohon kurma sebagai tiang penyangga. Mimbar masjid awalnya sebuah batang pohon kurma yang ditaruh di atas tanah. Kemudian diganti dengan kayu cedar berlapis tiga yang menyerupai podium di dalam gereja-gereja Suriah. Kiblat salat yang awalnya menghadap ke Yerussalem, kemudian dialihkan ke Makkah. Meskipun bentuknya sangat sederhana, masjid ini menjadi model umum untuk masjid-masjid lainnya pada abad pertama Islam. [10]
Saat ini, masjid Quba sudah mengalami perluasan hingga 5.035 meter persegi, yang mulanya hanya memiliki luas 1200 meter persegi. Terdapat 19 pintu dengan 3 pintu utama sebagai tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu dikhususkan sebagai pintu masuk para jamaah laki-laki, sedangkan satu pintu lainnya diperuntukkan untuk pintu masuk jamaah perempuan. Terdapat pula ruangan sebagai tempat belajar mengajar di seberang ruang utama masjid. [11]
c. Masjid Nabawi
Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun oleh Rasulullah setelah beliau membangun masjid Quba. Masjid ini dibangun di kota Madinah saat beliau hijrah. Rasulullah membangun masjid ini dari tanah liat. Atapnya berasal dari pelepah kurma dan tiangnya dari batang pohon kurma serta tingginya seukuran tinggi orang pada umumnya. Di dalam masjid ini terdapat shuffah yaitu, berfungsi sebagai kediaman kaum muslimin yang faqir.
Masjid ini memiliki tiga pintu yaitu, Bab ‘Aisyah, Bab ‘Atikah dan Bab Malikah. Di sebelah masjid juga dibangun beberapa rumah yang terbuat dari tanah liat dan langit-langitnya dari batang pohon kurma.
Masjid ini mengalami perbaikan dan perluasan oleh khalifah Umar, Utsman hingga Al Walid bin Abdul Malik.
Pada masa Al Walid bin Abdul Malik, ia mengirim surat kepada kaisar Romawi untuk mengirimkan ahli bangunan dalam rangka membangun masjid Nabawi. Kemudian dikirimlah empat puluh orang Romawi dan empat puluh orang Qibthi. Juga empat puluh ribu mitsqal emas dan kepingan granit. Mereka membangun dinding, pondasi, serta tiang-tiang dari batu bertulang besi dan timah. Adapun mihrab dan mimbar masjid terbuat dari kayu jati. Masjid ini terus mengalami pembangunan oleh para pemimpin kaum Muslimin. [12]
Hingga saat ini, para jamaah haji selalu berziarah ke makam Rasulullah yang berada di dalam kompleks masjid Nabawi. Selain itu, terdapat pula makam Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin Khattab di dalam masjid. Di bagian lain terdapat taman (raudah) yang berada di antara bekas rumah Rasulullah dan mimbar. [13]
d. Masjid Jami’ Al ‘atiq
Masjid ini dibangun oleh Amr bin Al Ash pada tahun 642 M di Mesir. Bangunan ini berdiri di atas tanah yag sebelumnya juga sebuah masjid Qusiabah bin Kultsum An Nujaibi.
Di dalam masjid yang dibangun oleh Amr bin Al Ash ini tidak memiliki mihrab. Qurah bin Syarik, seorang gubernur Mesir pada masa pemerintahan Al Walid bin Abdul Malik adalah orang pertama yang membangun mihrab pada masjid ini.
Masjid ini juga memiliki beberapa pintu yaitu, dua pintu yang berada di depan rumah ‘Amr, dua pintu di sebelah utara dan dua pintu di sebelah timur. Bangunan masjid ini merupakan masjid tertua di Mesir [14]
Selain sebagai masjid tertua di Mesir, masjid ini merupakan masjid yang pertama kali di Benua Afrika. Tidak hanya dikenal dengan nama masjid Al Atiq saja, melainkan juga masjid al-Fath, Taj al-Jawami dan Masjid Amr bin Al Ash. Adapun luas bangunan saat ini berkisar 13.200m2. [15]
e. Masjid Qairawan
Masjid ini adalah salah satu masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Dibangun oleh ‘Uqbah bin Nafi’ (670-675), seorang gubernur Afrika pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan. [16]
Terletak di kota Qairawan, Tunisia, Afrika Utara. Masjid ini berbentuk segi empat yang memiliki tiang penyangga terbuat dari batu pualam. Dinding dan langit-langit di dalam masjid dihiasi dengan ukiran dan tulisan ayat Al Qur'an. Juga terdapat tiga menara azan dan ukuran Kubah yang besar. [17]
Pada masa gubernur Yazid bin Hatim masjid ini mengalami pembangunan ulang. Kemudian saat berganti dengan gubernur Ziyadatullah bin Ibrahim bin Al Aghlab, beliau hendak merobohkan dan membangun ulang masjid. Namun, beliau mendapat nasehat dari para tokoh masyarakat agar rencana tersebut dibatalkan karena masjid ini adalah masjid yang dibangun oleh ‘Uqbah bin Nafi’. Tetapi beliau tidak mengindahkan nasehat tersebut. Ketika hendak dirobohkan, para tukang menyarankan agar mihrab dikecualikan.
Saat gubernur berganti oleh Ibrahim bin Ahmad bin Al Aghlab, beliau melakukan perluasan dan perbaikan dengan dibangun sebuah qubah yang disebut dengan qubah Al Bahwu. [18]
Luas bangunan sekitar 1 hektar atau 130x80 meter. Memiliki delapan pintu gerbang dan dinding-dinding yang tinggi menyerupai benteng. Juga memiliki empat menara berbentuk persegi. [19]
f. Kubah Batu dan Masjidil Aqsha
Kubah Batu (Qubbat Al Shakhrah)
dibangun oleh ‘Abd Al Malik bin Marwan pada tahun 691 di Yerussalem. Namun, orang-orang Eropa menyebutnya “Masjid ‘Umar”. Dikatakan demikian, karena untuk menarik perhatian jamaah haji dari Makkah yang waktu itu dikuasai oleh Al Zabayr.
‘Abd Al Malik adalah seorang arsitek. Terbukti dari tulisan Kufi yang masih ada di sekeliling Kubah. Selain itu, ia juga membangun masjid lain di dekat Kubah, di bagian selatan kawasan suci. Penduduk setempat menyebutnya Masjidil Aqsha (masjid terjauh). Al Haram Al Syarif (tempat suci yang terhormat) merupakan nama lain dari kompleks bangunan ini. Namun, nilai kesakralan masjid ini di bawah Masjidil Haram di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah.
Satu abad kemudian, Bangunan Kubah direnovasi oleh Al Ma’mun (813-883 M) dari dinasti Abbasiyah. Ia mengganti nama ‘Abd Al Malik yang terdapat di atas Kubah dengan namanya, akan tetapi ia lupa tidak mengganti tanggalnya.[20]
Tujuan dari pembuatan Kubah oleh ‘Abd Al Malik, untuk mengungguli atap gereja Sepulchre Suci. Bangunan ini dibangun di atas reruntuhan gereja Justine, St. Maryam yang telah dihancurkan oleh Chosroes II pada tahun 614 M. [21]
g. Masjid Raya Damaskus/Umayyah
Masjid ini merupakan salah satu bangunan islam terpenting di kota Damaskus. Dulunya, sekitar 1000 SM, masjid ini adalah sebuah kuil milik bangsa Yunani. Kemudian dialih fungsikan menjadi gereja oleh orang nasrani.
Saat Khalid bin Walid (633 M) menaklukkan kota Damaskus dari bangsa Romawi, gereja ini difungsikan menjadi dua bagian. Di satu sisi digunakan untuk masjid, di sisi lainnya tetap berfungsi sebagai gereja. Namun, seiring waktu jumlah umat Muslim semakin bertambah banyak dan umat Nasrani berkurang. Sehingga, dilakukanlah perombakan terhadap bangunan tersebut yaitu, dengan menjadikan keseluruhan bangunan menjadi sebuah masjid.
Masjid ini memiliki empat buah mihrab, yaitu mihrab Syafi’i, mihrab Hanafi, mihrab Maliki, dan mihrab Hambali.
Mihrab Maliki juga disebut dengan mihrab Sahabah. Mihrab ini merupakan mihrab tertua dalam masjid-masjid Islam.
Di dalam masjid ini terdapat makam nabi Zakaria a.s. Di sini terdapat dua buah tiang yang tertutup dengan sutra hitam dan bertuliskan ayat Al-quran, yaitu:
يَا زَكَرِيَّ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامِ إِسْمُهُ يَحْيَى
Artinya:
Hai Zakaria, kami memberi engkau kabar gembira dengan seorang putra bernama Yahya.
Masjid Umayyah ini memiliki empat gapura :
1. Bab az-Ziyadah, terletak di dekat kiblat. Di atas gapura ini terdapat sebuah bendera yang dikaitkan pada sebuah lembing. Bendera itu adalah bendera perang milik Khalid bin Walid saat menaklukkan kota Damaskus.
2. Bab Jairun, terletak di sisi sebelah timur. Gapura ini merupakan gapura yang paling besar diantara yang lain. Terdapat makam seorang pahlawan yang letaknya tidak jauh dari gapura. Bernama Husein bin Ali yang kepalanya terpenggal dan mati syahid di padang Karbela.
3. Bab al-Barid, terletak di sebelah barat. Di sisi kanan dari gapura ini berdiri sebuah sekolah Islam dari mazhab Syafi’i yaitu Madrasah Syafi’iyah.
4. Bab an Nathafaiyin, terhubung langsung dengan bagian dalam masjid. Pada tiap-tiap gapura terdapat kolam tempat untuk wudhu. [22]
Orang pertama yang merancang bangunan masjid ini bernama Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah. [23] Kemudian, pada masa Al Walid bin Abdul Malik (705-715 M) beliau membangun kembali masjid Umayyah di atas tanah bekas gereja Romawi yang dibangun oleh Santo Yahya. Terdapat dua menara di masjid ini. Menara sebelah selatan adalah menara gereja Romawi kuno. Sedangkan menara sebelah utara adalah menara yang dibangun oleh Al Walid dan menjadi model menara di Suriah, Afrika Utara dan Spanyol. Menara ini merupakan menara tertua yang dibangun oleh orang Islam dan masih bertahan hingga saat ini.
Ketika membangun seni arsitektur pada masjid ini, beliau memperkerjakan pangrajin dari Persia dan India serta para seniman Yunani yang dikirim oleh Raja dari Konstantinopel. Dinding masjid menggunakan marmer dan mozaik yang membuatnya nampak indah. Pada akhir abad ke-10, ahli geofrafi berkunjung ke masjid ini dan menyebutkan bahwa mozaik-mozaik pada masjid ini terbuat dari emas dan batu-batu yang melukiskan pepohonan dan kota, serta terdapat beberapa kaligrafi yang indah. Di dalam masjid terdapat mihrab yang berbentuk setengah lingkaran. Juga pintu yang berbentuk tapal kuda. [24]
Saat khalifah Al Walid memulai pembangunan masjid, ia menemukan sebuah lempengan batu yang bertuliskan bahasa Yunani. Kemudian diterjemahkan oleh Wahb bin Munabbih. Wahb mengatakan kalau tulisan ini merupakan tulisan pada masa Sulaiman Al Hakim bin Daud. Al Walid pun memerintahkan untuk menulis dengan tinta emas pada lazuardi yang dipasang pada dinding masjid dengan kata-kata :
رَبُّنَااللَّهُ لَانَعْبُدُ اِلَّااللَّهَ. أَمَرَ بِبِنَاءِ هَذَاالْمَسْجِدِ وَهَدَمَ الْكَنِيْسَةَ الَّتِي كَانَتْ فِيْهِ عَبْدُ اللَّهِ الْوَلِيْدُ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي ذِي الحِجَّةِ سَنَةَ سَبْعَ وَثَمَانِيْنَ
“Tuhan kami adalah Allah, kami tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah. Dialah yang telah menyuruh membangun masjid ini dan Dia yang telah memerintahkan agar merobohkan gereja yang telah dilakukan oleh seorang hamba Allah, Al Walid, Amirul Mukminin, pada bulan Dzulhijjah tahun tujuh delapan”. [25]
Meskipun masjid ini pernah terbakar pada tahun 1069 M, kemudian kembali dibakar oleh Timurlenk pada tahun 1400 M dan yang terakhir pada tahun 1893 M, namun masjid Umayyah ini menjadi keajaiban keempat di dunia dalam pandangan orang Islam. [26] Juga merupakan tempat suci keempat setelah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al Aqsha. [27]
C. Kesimpulan
Pembangunan masjid berawal dari masa Nabi saw. Sebelum Nabi membangun masjid pertamanya yaitu masjid Quba, Nabi memperbaiki Masjidil Haram di Makkah. Meskipun hanya sederhana, namun tujuan perbaikan terletak pada fungsi masjid-sebagai tempat ibadah.
Setiap melakukan ekspansi pada suatu wilayah, seorang Khalifah pasti membangun sebuah monumen bersejarah. Salah satu diantaranya adalah masjid. Masjid-masjid yang telah dibangun maupun diperbaiki adalah Masjidil Haram, Masjid Quba, Masjid Nabawi, Masjid Jami’ Al ‘atiq, Masjid Qairawan, Kubah batu dan Masjidil Aqsha, serta Masjid Raya Damaskus. Masjid-masjid itu merupakan masjid pada masa Rasulullah hingga dinasti Umayyah.
Adapun masjid Islam terbesar mulai dari Masjidil haram, masjid Nabawi, Masjidil Aqsha dan masjid Umayyah/masjid Raya Damaskus.
D. Bibliografy
[1] Yulianto Sumalyo, Arsitektur Masjid dan monument sejarah muslim, (Yogyakarta: Gajah Mada Press, 2006), hlm. 1-2.
[2] Ibid., hlm. 4.
[3] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kalam mulia, 2001), hlm. 419.
[4] Yulianto Sumalyo, Arsitektur Masjid…, hlm. 7.
[5] Ibid, hlm. 1.
[6] C. Israr, Sejarah Kesenian Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1956), hlm. 54-55.
[7] Masjid Peninggalan Sejarah Umat Islam, dalam https://sites.google.com/site/09sayapperdanarelih/kerukunan-a, diakses pada tanggal 20 Desember 2014.
[8] Republika Online Jurnal Haji, dalam http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/13/10/16/murs7h-masjid-quba-masjid-pertama-yang-dibangun-rasulullah-saw, diakses tanggal 20 Desember 2014.
[9] Masjid Peninggalan …, https://sites.google.com/site/09sayapperdanarelih/kerukunan-a...
[10] Philip K. Hitti, History of Arabs, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2005), hlm. 323.
[11] Masjid Quba (Sejarah dan Keutamaannya), dalam http://www.rumahallah.com/2013/02/masjid-quba-sejarah-dan-keutamaannya.html, diakses tanggal 20 Desember 2014.
[12] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan…, hlm. 433.
[13] Masjid Peninggalan… , https://sites.google.com/site/09sayapperdanarelih/kerukunan-a...
[14] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan…, hlm. 435.
[15] Ari Hermana, Kisah MASJID PERTAMA di Benua Afrika, dalam http://kampusilmuhikmah.blogspot.com/2012/06/kisah-masjid-pertama-di-benua-afrika.html, diakses tanggal 22 Desember 2014.
[16] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan…, hlm. 440.
[17] Masjid Peninggalan… , https://sites.google.com/site/09sayapperdanarelih/kerukunan-a...
[18] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan…, hlm. 440.
[19] Arsitektur Masjid Qayrawan (Tunisia), dalam http://kalipaksi.me/2009/03/08/arsitektur-masjid-qayrawan-tunisia/, diakses tanggal 22 Desember 2014.
[20] Philip K Hitti, History…, hlm. 275-276.
[21] Ibid., hlm. 331.
[22] C Israr, Sejarah Kesenian…, hlm. 110-113.
[23] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan…, hlm. 436.
[24] Philip K. Hitti, History…, hlm. 332-334.
[25] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan…, hlm. 438.
[26] Philip K. Hitti, History…, hlm. 334.
[27] Ibid., hlm. 227.
E. Daftar Pustaka
• Sumalyo, Yulianto, Arsitektur Mesjid dan monument sejarah muslim. Yogyakarta: Gajah Mada Press, 2006.
• Israr, C, Sejarah Kesenian Islam jilid I. Jakarta: Bulan Bintang, 1956.
• Hasan, Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Kalam mulia, 2001.
• Hitti, Philip K, History of Arabs. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2005.
• http://kalipaksi.me/2009/03/08/arsitektur-masjid-qayrawan-tunisia/
• http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/13/10/16/murs7h-masjid-quba-masjid-pertama-yang-dibangun-rasulullah-saw
• https://sites.google.com/site/09sayapperdanarelih/kerukunan-a
• http://www.rumahallah.com/2013/02/masjid-quba-sejarah-dan-keutamaannya.html
• http://kampusilmuhikmah.blogspot.com/2012/06/kisah-masjid-pertama-di-benua-afrika.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar